Don't Miss it
Lihat juga media sosial kami
Bagi sebagian mahasiswa, bekerja sejak kuliah bukan sekadar pilihan, tapi kebutuhan untuk mempersiapkan masa depan.
"Saya khawatir kalau tidak mulai dari sekarang, saya akan ketinggalan di dunia kerja. Makanya sejak SMA saya sudah coba freelance, biar punya pengalaman dan relasi lebih dulu."
Di tengah hiruk-pikuk dunia kampus yang penuh tugas, rapat organisasi, dan jadwal kuliah yang padat, tak sedikit mahasiswa memilih untuk fokus pada akademik semata. Namun, tidak demikian bagi Gibran, mahasiswa Universitas Indonesia yang justru menjadikan masa kuliahnya sebagai batu loncatan untuk membangun karier di dunia freelance kreatif.
Mahasiswa yang kini duduk di tahun terakhir ini bukan sekadar menjalani peran ganda sebagai pelajar dan pekerja, tapi telah melampaui ekspektasi dengan terlibat dalam berbagai proyek profesional berskala nasional. Ketika banyak orang seusianya baru mulai meraba masa depan, Gibran sudah melangkah jauh.
Gibran, Kemang, Jakarta Selatan, (Jumat, 4/07/2025) [Avesiena]
Saat ditanya apa yang mendorongnya terjun ke dunia freelance, Gibran menjawab dengan jujur: rasa khawatir. Bukan karena tekanan ekonomi atau tuntutan keluarga, tapi kegelisahan pribadi tentang masa depan.
“Yang mendorong saya adalah kekhawatiran saya akan masa depan diri saya sendiri. Jika tidak memulai lebih awal untuk mencari pengalaman dan relasi, saya takut nantinya tidak bisa bersaing di dunia kerja,” ujar Gibran.
Ketakutan itu bukan menjadi beban, melainkan bahan bakar yang membuatnya berani melangkah lebih awal dibanding teman-temannya.
Perjalanan Gibran di dunia freelance tidak dimulai saat ia duduk di bangku kuliah. Ia sudah memulai sejak masih SMA, sebuah keputusan yang kala itu mungkin terlihat nekat, namun kini membuahkan hasil.
“Saya belajar semuanya secara otodidak, dari proyek ke proyek. Saat masuk kuliah, saya baru belajar lebih detail soal industri kreatif. Tapi yang paling penting menurut saya adalah relasi,” jelasnya.
Proses belajarnya pun penuh trial and error. Baginya, kesuksesan tidak datang dari teori semata, tapi dari kemauan untuk terus mencoba sampai menemukan cara paling efektif.
Ketertarikan Gibran pada dunia kreatif membuatnya menekuni berbagai proyek, mulai dari produksi audiovisual hingga social media marketing. Ia tak segan mencicipi berbagai peran, mulai dari fotografer, departemen produksi, hingga produser.
“Proyek yang paling sering saya kerjakan adalah produksi audiovisual. Kalau skala besar, saya buat company profile. Skala kecil, short content untuk digital. Saya juga pernah memegang proyek live streaming, fotografi event, sampai ikut syuting heavy production. Spesialisasi saya biasanya di production assistant, khususnya di film. Sekarang saya juga mulai belajar social media marketing bareng teman-teman.”
Gibran menekankan bahwa semua proyek itu, meski beragam, tetap berada di lingkup dunia kreatif yang ia cintai.
Dari sekian banyak proyek, ada dua yang begitu membekas bagi Gibran, satu yang berkesan, satu lagi penuh tantangan.
“Yang paling berkesan itu waktu saya dan tim jadi social media marketing untuk salah satu pertunjukan musikal di Indonesia. Durasi proyeknya panjang, hasilnya memuaskan dan bahkan melebihi ekspektasi,” kenangnya.
Namun, tantangan terbesar justru datang dari sebuah proyek besar yang melibatkan nama besar: SIEMENS Indonesia.
“Saya jadi produser video 50 tahun SIEMENS Indonesia. Itu cukup menantang karena saya harus memimpin tim yang besar dan profesional. Ditambah lagi dinamikanya cukup banyak karena ini big project pertama kali saya sebagai produser dan harus berurusan dengan perusahaan yang cukup besar dan juga harus menyesuaikan dengan waktu produksi yang cukup singkat,” ujar Gibran.
Proyek musikal yang dimaksud Gibran adalah Mamma Mia! The Musical Re-Run 2025, sebuah pertunjukan teater musikal produksi Jakarta Art House yang diadaptasi dari musikal internasional Mamma Mia yang sudah lebih dulu sukses di Broadway maupun West End. Produksi ini bukan pertama kalinya ditampilkan di Indonesia, karena sebelumnya pernah digelar pada tahun 2023 dan kembali hadir sebagai “re-run” pada 2025.
Dalam proyek tersebut, Gibran berperan sebagai Visual Director dalam tim Social Media Marketing. Ia bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan visual digital yang berkaitan dengan promosi pertunjukan.
“Jobdesk-nya cukup banyak, mulai dari membuat key visual seperti poster dan materi promosi lain, mengedit video reels, sampai turun langsung ke lapangan untuk ambil footage,” jelas Gibran.
Produksi Video 50 Tahun SIEMENS Indonesia, Kayu Putih, Jakarta Timur (Sabtu, 21/06/2025) [Avesiena]
Menjalani dua dunia sekaligus, kuliah dan freelance, tentu bukan tanpa tantangan. Salah satu yang paling sulit adalah soal waktu.
“Saya sebenarnya buruk dalam manajemen waktu. Tapi yang saya atur itu prioritas. Kalau kerja, tanggung jawabnya besar karena melibatkan tim dan pihak luar. Di kuliah, saya prioritaskan tugas kelompok dulu. Waktu nongkrong dan istirahat pun saya potong untuk nambah jam terbang,” ujarnya.
Pengorbanan waktu sosial adalah harga yang harus dibayar. Rasa FOMO (fear of missing out) pun tak jarang menghantui saat teman-temannya sedang menikmati masa muda.
“Kadang suka FOMO lihat teman-teman nongkrong atau liburan, sementara saya kerja. Tapi di sisi lain, itu jadi kebanggaan buat saya,” kata Gibran.
Dengan beban kerja yang tak menentu, konflik antara freelance dan kuliah tak bisa dihindari. Bahkan skripsi pun sempat terganggu.
“Pasti pernah bentrok. Jam kerja saya pernah tabrakan dengan jadwal skripsi. Solusinya ya selektif ambil proyek. Kita harus bisa menilai, proyek mana yang bisa dikerjakan tanpa ganggu kuliah.”
Kunci utamanya adalah bijak memilih dan tahu kapasitas diri. Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti jejaknya, Gibran memberikan pesan sederhana namun mengena:
“Jangan malas. Ambil semua kesempatan yang ada di depan mata. Ide tanpa eksekusi itu sama aja kayak nggak punya ide,” tegasnya.
Dalam kesehariannya, Gibran lebih banyak menggunakan software seperti CapCut untuk produksi konten pendek karena efisien. Namun untuk proyek berat, ia mengandalkan Adobe Family.
Pelajaran paling berharga yang ia petik dari perjalanannya sejauh ini adalah soal kedewasaan dan kerendahan hati.
“Di atas langit masih ada langit. Mulai disiplin dari diri sendiri, cari mentor yang baik, dan terus belajar dari setiap proyek.”
Penulis: Avesiena Fathir
Kisah Gibran menjadi contoh nyata bahwa masa muda bisa diisi dengan produktivitas dan pembelajaran berkelanjutan. Di balik kesibukannya sebagai mahasiswa dan pekerja freelance, Gibran sedang membangun masa depan dengan pondasi yang kuat: pengalaman, koneksi, dan mentalitas siap belajar.
Di tengah tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif, mungkin memang sudah waktunya bagi mahasiswa untuk tak hanya mengandalkan IPK semata, tapi juga jam terbang di dunia nyata, seperti yang dilakukan Gibran.
Di Tengah gemerlap ambisi yang menggebu mengejar Pendidikan Tinggi Negeri, Faiz Ali - seorang anak laki-laki asal Brebes rela memendam mimpinya di balik peluh dan tanggung jawab demi berbakti kepada kedua orang tuanya.
Pada usia sekolah dasar, Faiz mulai ikut mengembara jauh dari kampung halamannya bersama sang bapak ke Jakarta. Sejak SD sang bapak lebih dulu menginjakkan kakinya di Jakarta sampai lulus SMA. Setelah lulus SMA, bapak pulang ke Brebes dan menikah dengan ibu pada tahun 2003. Setelah menikah bapak memulai semuanya dari nol, mulai membuka warung kopi pertamanya di Jakarta. Menyusuri Jakarta, berpindah-pindah hingga akhirnya memutuskan untuk membuka warung di daerah Kuningan, Jakarta Selatan pada tahun 2008 sampai detik ini.
Saat beranjak SMP hingga SMA Faiz memilih untuk menetap di Jawa bersama sang ibu dan adik perempuannya, setiap libur Faiz pergi ke Jakarta membantu bapak berdagang.
“Faiz jaman SMP, SMA di Jakarta tiap liburan bantuin bapak ngaduk kopi, hahaha orang-orang kalau liburan ke Bali, ke Semarang, kalo Faiz ngaduk kopi sama bapak hahaha,” ucap bapak Faiz
Semasa remaja Faiz aktif dalam kegiatan berorganisasi, baik di kampung halamannya maupun disekolah. Aktif berorganisasi tidak membuat faiz lalai dengan tugas sekolahnya,bahkan nilai Faiz sangat baik saat SMA, demi mengejar mimpinya menembus PTN yang ia inginkan. Hingga akhirnya Faiz terdaftar dalam list siswa eligible di SMA-nya. Mendapat informasi tersebut, semangatnya membara, pertanda bahwa Faiz semakin dekat dengan mimpinya.
Takdir berkata lain, bapak mengusulkan Faiz untuk berkuliah di Universitas Bakrie karena dekat dengan warung bapak sembari membantu berdagang. Mimpinya yang sudah setengah jalan harus pupus, karena tuhan berkata lain. Sedih, kecewa, berkecamuk dalam dirinya. Faiz tak melawan jalan hidup yang datang tanpa aba-aba, justru ia mengecupnya dengan keikhlasan.
“Iya pak, nggak ap -apa Bakrie juga bagus, biayanya lebih ringan ga mikirin kosan juga”
Ia bukan tak punya pilihan. Tapi ia memilih menunda mimpinya-melipat cita-cita yang besar dalam dada. Karena menurutnya, masih banyak pintu lain menuju mimpinya. Takdir tuhan pada saat itu bukanlah akhir dari perjalanan mimpinya, justru perjalanan awal Faiz. Dengan mengedepankan bakti sebagai anak laki-laki pertama dalam keluarga, Faiz merelakan mimpinya dan dengan tegar membantu sang ayah berdagang sembari berjalan pada perjalanan barunya di Universitas Bakrie.
“Ibunya lulusan D3 farmasi, mungkin nurun ke Faiz makanya dia pinter. Ngurus apa-apa sendiri daftar kuliah sendiri, dari SD, SMP sampe SMA masuk sekolah tiba-tiba cuma ngasih bayaran aja ‘segini pak’, mandiri anak itu.”
Sejak SMP Faiz mengurus segala urusan sekolahnya sendiri, karena lagi-lagi tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.
Lulus SMA Faiz merantau kembali bersama bapak ke Jakarta. Faiz memulai perjalanannya di Universitas Bakrie dengan mencoba mendaftar semua beasiswa yang ada guna membantu meringankan tanggung jawab bapak. Faiz berhasil mendapatkan salah satu beasiswa yang ada. Tetapi nominalnya masih terbilang besar.
“Karena yang datang ke warung bapak kebanyakan orang-orang sipil dan kayanya mereka menghasilkan, Faiz jadi termotivasi mau kerja di kantor kaya mereka, makanya Faiz ambil teknik sipil.”
Setiap harinya, selepas sholat subuh Faiz bersiap pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan Warung Berkah milik bapak. Dilanjut dengan persiapan membuka warung. Faiz biasanya membantu bapak sampai waktunya kuliah. Dan akan kembali lagi setelah perkuliahan selesai.
Tak mudah bagi Faiz menyesuaikan diri dengan hiruk-pikuk Ibu Kota. Sebagai seseorang yang asing dengan ritme kehidupan Jakarta, kini ia harus mulai terbiasa hidup berdampingan dengannya.
“Kalau ngomongin capek, udah pasti capek. Tapi Faiz selalu ingat ibu dirumah, karena Faiz mau sukses dan banggain orang tua.”
Faiz saat sedang belajar di warungnya, Kuningan, Jakarta Selatan, (Sabtu, 21/06/2025) [Shofiya]
“Awal awal kuliah Faiz kaget. Kabur dia ke Jawa pulang ke ibunya,” curhat bapak.
Meski lingkungan Jakarta sangat berbeda dari kampung halamannya, Faiz tidak menjadikan hal itu sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Justru, ia mampu beradaptasi dengan cepat di lingkungan kampus. Ia berhasil menjalin banyak pertemanan, baik di dalam kelas maupun di luar aktivitas akademik. Faiz juga aktif sebagai anggota himpunan mahasiswa teknik sipil, yang tentu menambah beban tanggung jawabnya. Ia harus membagi waktu antara kuliah, praktikum, laporan, rapat organisasi, dan juga membantu sang ayah berdagang. Tekanan yang dihadapinya bukan hal sepele, tapi Faiz tetap menjalaninya dengan semangat.
“Kalau ngomongin capek, setiap hari pasti capek. Kalau capek biasanya Faiz telepon ibu. Kalo udah ngga bisa diomongin biasanya Faiz langsung pulang, ketemu ibu,” ucapnya dengan tenang.
Hidup tak selalu tentang menjadi yang pertama sampai di garis akhir. Terkadang, hidup adalah tentang seberapa besar seseorang mampu bertahan dan berjalan, walau jalannya lebih berat dari yang lain.
Setiap cangkir kopi yang ia aduk bukan sekadar racikan rasa, tapi menjadi saksi perjalanan panjang seorang anak yang mencintai orang tuanya tanpa syarat. Jalan Faiz mungkin tak seindah cerita anak kota, tapi dari balik peluhnya, ia menulis kisah perjuangan yang lebih besar dari sekadar lulus atau bekerja: kisah tentang keberanian merelakan mimpi demi keluarga, tanpa pernah benar-benar menyerah pada impian itu sendiri.
Penulis: Arifah Shofiya
Ia tumbuh bukan dengan kemewahan, tapi dengan keikhlasan. Ia tak besar karena diberi kemudahan, tapi karena bersedia menerima yang sulit sebagai jalan untuk bertumbuh. Di pundaknya ada tanggung jawab. Di matanya masih ada mimpi.
Dan dalam diamnya, Faiz menyimpan satu tekad yang menggerakkan segalanya:
“Karena Faiz mau buktiin ke orang-orang, kalau anak pedagang juga bisa sarjana… bisa kerja kantoran.”
Siti Laramidan Boyratan yang akrab disapa Midan, adalah sosok anak tunggal berusia 19 tahun yang tengah berjuang mengejar mimpinya dan satu satunya harapan orang tua. Di usianya yang masih muda, Midan telah mengambil keputusan besar untuk menjalani dua peran sekaligus, yaitu bekerja penuh waktu di Jakarta sambil menempuh pendidikan sebagai mahasiswi kelas karyawan jurusan Informatika di Universitas Indraprasta (Unindra).
Di balik rutinitasnya sebagai mahasiswa, ia juga menjalani hari-hari yang padat sebagai admin proyek di PT. Takahiro Sigma Energi. Dari pagi hingga sore, ia fokus bekerja sebagai karyawan penuh waktu. Setelahnya, ia bergegas mengikuti kelas karyawan yang berlangsung dari Jumat malam hingga Sabtu malam. Jadwal yang padat dan melelahkan itu dijalankan dengan tekun, karena ia sadar bahwa setiap langkah ini adalah bagian dari perjalanan mewujudkan cita-citanya.
Kampus Universitas Indraprasta PGRI, Jakarta Timur (21/06/2025) [Safina]
Tinggal di Bogor dan harus bolak-balik ke Jakarta setiap pekan bukan hal mudah, meskipun begitu terkadang Midan tinggal di rumah kakak sepupunya yang berada di Jakarta juga.
“Aku sekarang tinggal sama orang tua di Bogor. Tapi waktu kerja kan lagi cakung, agak jauh kan dari rumah. Di sana aku tinggal sama kakak sepupu,” Ucap Siti Laramidan Boyratan.
Namun bagi Midan, jarak bukan alasan untuk menyerah. Justru dari keputusan inilah terlihat kesungguhan dan tekadnya untuk tetap melanjutkan pendidikan, meskipun jalan yang ia tempuh tidak semudah teman-teman sebayanya.
Bagi Midan, bidang IT bukan sekadar pilihan akademik, melainkan bagian dari impian masa mudanya impian untuk suatu hari nanti menciptakan aplikasi yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.
Keputusannya untuk mengambil kelas karyawan adalah bentuk nyata dari keberanian dan kedewasaannya dalam mengelola waktu, tenaga, serta tanggung jawab yang besar.
Meskipun pekerjaan yang digelutinya saat ini belum sejalan dengan jurusan kuliahnya, Midan tetap memelihara optimisme. Sejak duduk di bangku SMA, ia telah menaruh minat besar pada dunia pemrograman. Ia bermimpi menciptakan aplikasi karyanya sendiri sesuatu yang tidak hanya mencerminkan kemampuannya, tetapi juga memberi manfaat bagi banyak orang.
“Aku pengen kembangin aplikasi sendiri. Mungkin suatu hari bisa bermanfaat buat banyak orang,” ucapnya penuh harap, dengan pandangan yang menatap jauh ke depan.
Perjalanan akademik Midan tidak dimulai langsung setelah lulus sekolah. Usai menyelesaikan pendidikan SMA, ia memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu selama setahun. Bukan karena paksaan, tetapi karena kepekaan dan kesadarannya akan kondisi ekonomi keluarga. Ia ingin membantu orang tuanya, namun di saat yang sama, tak rela untuk meninggalkan pendidikan.
“Aku memutuskan itu karena pertama mungkin finansial. Jadi untuk membantu finansial keluarga yang kedua untuk kembangin diri juga yang ketiga supaya nggak mutus pendidikan aku kayak gitu aja. Jadi aku kerja tapi aku juga bisa ngejar pendidikan aku sesuai jurusan yang aku mau,” ujarnya.
Pilihan itu bukan jalan yang mudah, tapi ia jalani dengan penuh keteguhan. Bagi Midan, pendidikan dan kerja bukan dua hal yang harus dipilih salah satu melainkan bisa dijalankan secara bersamaan, asal punya tekad dan tujuan yang jelas.
Keinginan untuk terjun lebih dalam ke dunia IT menjadi motivasi utama Midan untuk tetap bertahan. Meski terkadang muncul keinginan untuk resign dan fokus kuliah full time, ia sadar bahwa pengorbanan sekarang akan membawa hasil di masa depan.
Tantangan tentu tidak sedikit. Ia harus berpindah dari tempat tinggalnya di Bogor ke Jakarta untuk bekerja, Midan tinggal di rumah saudaranya untuk kerja di Jakarta, lalu kembali ke rumah setiap akhir pekan.
“Capek, jujur. Apalagi kalau tugas kuliah dan kerjaan numpuk. Kadang suka bingung mau mulai dari mana,” cerita Midan.
Namun, ia punya caranya sendiri untuk bertahan. Midan kerap mengerjakan tugas di waktu istirahat kerja atau saat hari libur. Tak jarang juga meminta bantuan teman untuk berbagi beban tugas.
“Untungnya temen-temen kuliah dan kantor sangat support. Kita saling bantu,” katanya sambil tersenyum.
Wawancara Ekslusif bersama Midan, UNINDRA, Jakarta Timur, (Sabtu, 21/06/2025) [Safina]
Sebagai anak tunggal dalam keluarganya, Midan memikul tanggung jawab besar yang tidak semua orang seusianya mampu jalani. Ia sadar betul bahwa harapan orang tuanya tertumpu padanya.
“Aku harus jadi harapan orang tuaku. Mereka kerja juga, tapi aku pengen bantu, nggak nambahin beban,” ucapnya dengan mata berbinar, menggambarkan semangat yang terus menyala meski lelah kerap menyapa.
Semangat inilah yang mendorong Midan untuk mandiri secara finansial. Tanpa bergantung pada orang tua, ia membiayai kuliahnya sendiri dari penghasilan sebagai admin full-time di sebuah perusahaan energi.
Tak hanya untuk pendidikan, Midan juga merasa bahagia karena kini tak perlu lagi meminta uang jajan kepada orang tuanya. Bahkan, dari gaji bulanannya, Midan menyisihkan 50 persen untuk diberikan kepada orang tua sebagai bentuk baktinya. Sementara sisanya ia gunakan untuk kebutuhan pribadi dan ditabung secara rutin.
Berkat kedisiplinannya, ia bahkan mampu membeli ponsel baru yang dimana menurut orang lain pencapaian tersebut adalah hal kecil, namun untuk Midan itu adalah suatu pencapaian yang sangat berarti karna ia sudah berusaha sejauh ini.
Di tengah kepenatan, Midan tetap bersyukur atas support system yang ia miliki yaitu, orang tua, teman-teman kantor, hingga teman kuliah. Midan memberikan kata kata penyemangat untuk orang orang di luar sana yang sedang ada di nasib yang sama.
Penulis: Safina Diddani Anwar
“Sebenernya tuh kita ga pernah telat untuk ngejar pendidikan, jadi teman-teman di luar sana tetep semangat,” pesan Midan.
Midan bukan hanya membuktikan bahwa kuliah sambil kerja itu mungkin, tapi juga menunjukkan bahwa dengan niat, semangat, dan pengorbanan, masa depan yang lebih cerah bisa diraih selangkah demi selangkah.
Drag and Drop Website Builder